Kota Lama
Sebagai Simbol Kolonialisme
Napak Tilas Kota
Lama Boyolali
Kota
Boyolali Selayang Pandang.
Kota
Boyolali, merupakan salah satu bagian dari wilayah Karesidenan Surakarta yang
resmi berdiri pada tahun 1815 denga nama pertama kali Pos Tundan. Jauh sebelum
tahun 1815, nama Boyolai sudah tertuangkan pada Babad Sala dan Babad Kartasura,
dimana asal mula nama Boyolali muncul dari potongan percakapan antara Kyai
Ageng Pandanaran selaku Bupati pertama Semarang dengan istrinya, selama
melakukan perjalanan dari Semarang menuju Gunung Jabalkat di daerah Tembaya
Klaten untuk mendapatan wahyu dari Sang Maha Pencipta, yang saat ini merupakan
areal pemakaman Kyai Ageng Pandanaran, Nyai dan pengikut dari berbagai daerah.
Dicuplik dari percakapan yang berbunyi “Boya
Wis Lali, Kyai Teko Ninggal Aku” , yang diucapkan oleh Nyai Pandanaran
ketika berada diatas sebuah batu besar di bawah Jalan Pandanaran saat ini,
inilah asal mula nama Boyolali disematkan. Menurut sejarah, Nyai Ageng
Panadanaran mengucapkan kalimat tersebut ketika istirahat, karena baru saja
dirampok oleh pemuda yang tengah mabuk ketika berada di Salatiga dan ditinggal
oleh Kyai Ageng Pandanaran. Hingga saat ini ketika tanggal 5 Juni,setiap tahun diadakan napak
tilas nama Boyolali yang dilaksanakan oleh yang dituakan masyarakat Boyolali,
tepat berada di atas batu yang berada di sungai Jalan Pandanaran atau jalur
utama Semarang Solo.
Pos
Tundan, Kabupaten Pangreh Praja Hingga Kabupaten Gunung Pulisi
Tahun
1847 ketika pemerintah kolonial berada di Keraton Surakarta Hadiningrat, nama Pos
Tundan mulai digunakan pada masa pemerintahan Keraton Surakarta Hadiningrat
dibawah kontrol pemerintah kolonial Belanda. Kota Boyolali yang notabenya masih
belum memiliki pemerintahan sendiri, membuat Pos Tundan dirasa sesuai dengan
letak geografisnya. Faktor lokasi yang strategis, membuat Kota Boyolali yang
berada pada jalur utama Semarang Solo mendapat julukan Pos Tundan, hal ini
membuat pemerintah kolonial Belanda mulai mendirikan beberapa fasilitas
layaknya sebuah kota kolonial dengan beberapa pendukung lainya. Pos Tundan pada
awalnya digunakan sebagai pos pengamatan pengiriman hasil bumi dan tenaga kerja
dari pelabuhan atau daerah di Semarang menuju ke daerah Karesidenan Surakarta,
didasarkan kepada lokasi yang strategis tersebut, membuat Boyolali layak
digunakan sebagai pos tundan. Seiring berjalanya waktu Boyolali mengalami
perubahan dari sebagai Pos Tundan menjadi Kabupaten Gunung Pulisi.
(Peta
Kota Lama Boyolali tahun 1935. Sumber: kitlv.nl)
Napak
Tilas Kejayaan Kota Lama Boyolali
Kota
Lama Boyolali berada di poros utama Jalan Semarang Solo, mulai dari perempatan
toko besi “seiko” kearah barat hingga terminal bus Boyolali. Adapun bangunan-bangunan
yang masih tersisa hingga saat ini, yakni yakni Benteng Renovatum yang dirubah
menjadi taman Sono Kridanggo dan berhadapan dengan gedung Societeit yang
berubah fungsi menjadi gedung perpustakaan daerah, Tangsi Tentara yang beridiri
tahun 1914 dan 1913, Kepatihan berubah menjadi gedung bank Guna Daya berdiri
tahun 1969, Boyolali Theater, Sono Sudoro Theater, Villa Merapi, Kantor Pengadilan
Agama, Kantor Polsek Boyolali, Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten, Loji-loji, Kantor
Kawedanan/Asisten Wedana berubah menjadi Rumah Sakit Natalia, Kantor Distrik
dan terakhir adalah Rumah Sakit pertama di Boyolali berdiri tahun 1910 dan saat
ini dipergunakan sebagai kantor asuransi Bringin Life. Disisi lain, dengan
adanya etnis Tionghoa di Boyolali membuat pemerintah Kota Boyolali memberikan
fasilitas untuk etnis Tionghoa yang mayoritas pedagang, fasilitas tersebut
yakni “Mementomori” atau Kuburan Cina, dan pasar kota Boyolali. Di Boyolali
terdapat 3 lokasi kuburan Cina, akan tetapi hanya menyisakan satu lokasi yang
saat ini beralih fungsi menjadi perkampungan warga.
Eks
Benteng Renovatum
(Foto,
dokumentasi pribadi)
Eks Societeit Bojolalie
(Foto
Dokumentasi Pribadi)
Eks Tangsi Tentara
1. 1913
2. 1914
(Foto,
dokumentasi pribadi)
Eks
Rumah Sakit (Sekarang Bringin Life)
(Foto
dokumentasi pribadi)
Mess
Bhayangkari
Eks
Rumah Distrik
(Foto
Dokumentasi Pribadi)
Selain
bangunan-bangunan pemerintahan dan fasilitas penunjang lainya, disekitaran Kota
Lama Boyolali yang menjadi pusat kegiatan masyarakat ini terdapat
bangunan-bangunan lain yang mendukung kegiatan perekonomian, sosial dan
kebudayaan masyarakat kolonial pada waktu itu. Adapun peninggalan-peninggalan
lain yang mendukung tersebut, yakni Oemah Leo, Tempat tinggal bagi orang-orang
belanda seperti rumah Loji yang diperuntukan bagi pekerja di pemerintahan dan
beberapa fasilitas yang disediakan terutama untuk kepentingan kolonial. Disisi
lain, di Boyolali juga terdapat Pesanggrahan Pratjimoharjo yang terletak di
Desa Paras, Kecamatan Cepogo ini didirikan oleh SISKS Pakubuwana VI hingga X untuk
tempat istirahat Sinuhun beserta permaisuri dan anaknya setelah melakukan
lawatan ke daerah lain. Pesanggrahan ini sempat akan digunakan oleh Belanda
sebagai pos pengintaian terhadap Keraton Surakarta karena lokasinya yang cukup
strategis, yakni di kaki gunung Merapi. Akan tetapi, niatan tersebut gagal
setelah gerilyawan Cepogo membumi hanguskan tempat tersebut sekitar tahun 1949.
(Foto Lokasi Cagar Budaya sekitar Simpang Lima Boyolali)
Perihal
pendidikan, Belanda juga mendirikan sarana pendidikan di Boyolali dengan nama Sekolah
Rakyat yang sekarang berganti menjadi SDN 1 Boyolali dikhususkan untuk
masyarakat kelas menengah kebawah seperti halnya pribumi dan anak dari para
“Jongos” yang bekerja di seputaran Kota Lama Boyolali. Lokasi SDN 1 Boyolali
berada di seputaran komplek Kota Lama Boyolali, ada tiga sarana pendidikan di
Boyolali yakni Sekolah Rakyat/ SDN 1 Boyolali, SDN 7 Boyolali dan SMA N 3
Boyolali akan tetapi SMA ini berdiri setelah Belanda mulai hengkang dari
Boyolali sekitar tahun 1950.
Simpulan
Hingga
saat ini kawasan Kota Lama Boyolali, masih didominasi oleh bangunan cagar budaya
yang dapat ditunjukan kepada anak cucu berikutnya sekaligus dapat digunakan
sebagai pelajaran tentang masa lalu Kota Boyolali dari jaman kerajaan hingga
kolonialisme. Selain itu, apabila terdapat sebuah atau kawasan bangunan cagar
budaya di suatu daerah bangunan tersebut dapat dipergunakan sebagai icon suatu
daerah, kabupaten / kota. Perkembangan Kota Boyolali di tahun 2012 hingga tahun
2015 dapat dikatakan cukup pesat seiring perkembangan jaman. Pembangunan
simpang lima Kota Boyolali khususnya, berada di kawasan cagar budaya yakni di
pusat Kota Lama Boyolali. Akan tetapi, dengan perhitungan dan penelitian lebih
lanjut alhasil kawasan cagar budaya tempat dimana simpang lima berdiri aman dan
hingga saat ini dapat disaksikan kejayaan Kota Boyolali dari kota kecil menjadi
kota kolonial besar dengan sarana dan prasarana yang cukup lengkap.
Referensi
Peta
Kota Boyolali tahun 1935. Media-KITLV.nl
Soerakarta
(Res) : Boyolali Tahun 1933. 1 : 25.000. Pt 1 Jaw 103 (14).
Koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
KG
2. Kartografi Indonesia 1913-1946. Jilid I. Koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia.
Peneliti,
Team, 1982. Sejarah dan Hari Jadi Kabupaten Boyolali. Surakarta:
Universitas Sebelas Maret.
Radjiman, 1987. Sejarah
Surakarta. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
Radjiman, 2002. Toponimi
Kota Surakarta dan Awal Berdirinya Kasunanan Surakarta
Hadiningrat, Surakarta.


keren artikelnya,,,, ikut lomba menulis cerita boyolali saja pak...
BalasHapusBerarti lokasi rumah sakit natalia itu harusnya masuk cagar budaya donk...
BalasHapusBerarti lokasi rumah sakit natalia itu harusnya masuk cagar budaya donk...
BalasHapushhhmmm, jadi patung kuda itu justru 'mereduksi' sejarah kota boyolali yak. Aku membayangkan jika patung itu diganti patung ki ageng pandanaran dan si nyai. Lebih menyejarah!!
BalasHapussemoga bangunan cagar budaya di Boyolali akan tetap lestari...
BalasHapus