Kampung Jawa
Pada Eksposisi Sedunia di Paris
Tahun 1889
Pendahuluan
Gambar
dan kalimat yang disajikan oleh penulis dari majalah “Archipel” dengan judul asli “Le
Kampong Javanais a l’ Eksposition Universelle de Paris en 1889”, berisi
informasi yang dimulai tanggal 15 Oktober 1888, dan khususnya tanggal 2 Oktober
1889 yang ditujukan untuk memberikan informasi dan keterangan kepada khalayak
ramai supaya mereka tertarik pada peristiwa yang cukup penting pada saat itu.
Mulai dari Rencana Umum dari Lapangan Vietnam, Pintu Gerbang Kampung Jawa, Rumah
di Atas Tiang, Lumbung Padi dan Warung, Orang Jawa Pembuat Topi, Para Pemain
Angklung, Penari Jawa, Pertunjukan Selesai hingga Musik Ajaib yang semua ini
berasal dari kampung-kampung yang masih ketal dengan adat dan kebudayaan Jawa,
khususnya Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Rencana umum dari lapangan Veteran
Tahun
1889 saat eksposisi digelar acarana ini menempati sebagian “Champ de Mars” atau Lapangan Veteran. Sisi lain dari tempat ini
didirikan “Kampung Nusantara / Indian
Archipelago”, yang juga terdapat paviliun Belanda yang berada di sebelah
Champ de Mars. Sisi utara terdapat paviliun yang berasal dari Kamboja dengan
beberapa tambahan yakni pagoda Angkor, terdapat juga paviliun-paviliun Chocin-China
yang menghadap panggung Annam dan kampung Cina. Paviliun lainya yakni paviliun
dobel dari Annam dan Tonken, kemudian pagoda Villenour atau kantor dagang
Hindia Perancirs, di dekatnya terdapat kampung Senegal dan paviliun Madagaskar
dan di ujung lapangan adalah Istana Tunisia dan paviliun Aljazair. Paviliun
Marokko berada di Champ de Mars menghadap negara-negara lain yang sudah
merdeka, seperti Meesir, Persia, Siam dan Jepang.
Pintu gerbang Kampung Jawa
Akhir
abad ke 19 merupakan awal munculnya sifat khas dari Eksposisi sedunia,
dikarenakan panitianya sudah memasang instalasi Belanda di Lapangan Veteran
secara cukup teliti, untuk membuat sifat khas tersebut dari sifat kenyataan dan
kemurnian. Para organisator tidak memberikan gambaran tentang kesempurnaan atas
keberadaanya di pulau Samudera, akan tetapi mereka menginginkan sesautu yang
lebih dengan cara mengambil suatu daerah terpencil beserta penghuni dan tempat
tinggalnya, dan di pindahkan ke tengah-tengah kota Paris. Kedatangan mereka
dari daerah asal mengalami kesulitan karena rombongan yang terdiri dari 40
orang pria dan 20 orang wanita, telah disibukan membangun tempat tinggal berupa
desa atau kampung yang semuanya didirikan oleh pekerja Jawa dengan memakai
alat-alat yang cukup sederhana.
Rumah di atas tiang, lumbung padi
dan warung
Berawal
dari pemikiran “Kalau tidak ada bambu yang baik ini, maka orang Jawa pasti akan membuatnya, dikarenakan
tempat yang ditempati orang baik-baik ini sedemikian rupa, sehingga tidak
memungkinkan mereka lepas dari baha yang lentur ini”, mengakibatkan rumah-rumah
kecil mereka membentuk sebuah kampung, yang mengadopsi contoh konstruksi di
kepulauan “Hindia” berukuran tinggi yang sama dan dalam pembuatanya juga sama,
digambarkan menjadi sebuah rumah diatas tiang di tepi sebuah sungai, dan sebuah
lumbung padi yang merupakan salah satu bangunan umum di pedesaan.
Orang Jawa pembuat topi
Awal
dari penempatan rumah-rumah tersebut didiami oleh seorang pembuat topi dan
keluarganya, tidak jauh dari si pembuat topi terdapat pembuat topi lainya akan
tetapi dibuat dengan cara dianyam, topi tersebut tidak kalah indahnya karena
dibuat dari jerami. Tidak diragukan lagi bahwa topi yang dianyam dari jerami
tersebut tidak kalah dengan topi yang berasal dari Eropa. Hingga pertengahan
abad 18, setelah topi tersebut meledak di masyarakat, sesegera mungkin Inggris
mendirikan pabriknya. Topi tersebut bahkan juga dibuat pabrik di Behemen,
Austria. Di Peru sendiri juga terdapat topi Panama yang dianyam dari kulit
Quillaja, di Jawa sendiri memiliki keaslian yang hampir sama dan tetap
mengikuti model yang sama seperti nyonya besar bangsa Eropa.
Para pemain Angklung
Angklung
adalah alat musik yang berasal dari Jawa khususnya Jawa Barat, juga terbuat
dari batang bambu yang berkualitas baik dan disesuaikan dengan tinggi rendahnya
bunyi dan notasi-notasinya disesuaikan dengan panjang pendeknya bambu tersebut.
Penari Jawa
Pada
saat Eksposisi Sedunia digelar, para penari Jawa dalam pertunjukan selalu tidak
ada yang menandingi, bahkan tidak ada pertunjukan yang tidak ada penontonya dan
penonton dari Eropa pada waktu itu merasakan terhipnotis dengan gerak para
penari Jawa dan parfum yang meracuni dari bungan mazanilla yang mereka pakai.
Rombongan penari ini terdiri dari 5 wanita dan 1 pria, mereka hidup dalam
kesederhanaan bahkan dalam mementaskan pertunjukan selalu dari desa ke desa,
baik dibayar maupun tidak.
Para
anggota penari perempuan merupakan para “Abdidalem” Mangkunegoro, mereka
terpilih dari 60 orang kelompok penari. Mereka atau “Tandak-tandak” tersebut
lahir di dalam Istana Sultan dan selamanya tidak akan mereka tinggalkan kecuali
untuk menikah pada saat yang ditunjukan oleh primbon. Di Jawa, profesi penari
sama sekali tidak mencirikan hidup senang dan kebiasaan untuk bergembira selama
tinggal di Eropa menurut Kebudayaan Terpsichoro. Wanita-wanita penari Jawa ini
dalam berpakaian menggunakan pakaian mewah yang hampir identik dengan beberapa
bas-relief yang ditemukan di candi-candi Khmer. Bahkan penari-penari itu
berjalan seperti bermimpi, karena kakinya hampir tidak bergerak dalam setiap
penampilanya. Gamelan juga mempengaruhi dan memberi inspirasi kepada
penari-penari Jawa dan Debussy.
Pertunjukan selesai
Setelah
pertunjukan selesai para penari-penari Jawa ini, cukup memprihatinkan
kehidupanya, bahkan hanya untuk membeli syaal kepada penjual di sebuah sudut
saja mereka harus berjalan tanpa sandal, menghindari genangan air dan lumpur
bahkan nekat untuk melewatinya dan di sana mereka melihat pakaian-pakain yang
indah dan benda-benda dari bulu, emas dan kain beraneka warna, mereka hanya
bisa melihat dengan sedih dari kejauhan dengan rasa bingung dan gemetar dalam
hati mereka. Hal tersebut membuat para nyonya dari kota pinggiran mengirimi
mantel untuk malam hari yang cukup mewah kepada Sarkiyem, Taminah, Sukiyah dan
Wakiyem. Para gadis-gadis Jawa tersebut sangat gembira dengan hadiah ini, dan
mereka pun menyimpan baik-baik bra mereka yang berharga 25 sen. (Frantz
Jourdain).
Musik ajaib
Gamelan,
pawai musik dan tari Jawa, musik para serdadu di Aljazair, nyanyian Persia,
tari perut, tarian Romawi, nyanyian Jepang kuno dan pesta untuk Dewi padi merupakan perpaduan yang sangat “ajaib” bila
didengarkan lebih dalam.
Simpulan
Hingga
akhirnya Eksposisi Sedunia tahun 1889 berasal dari “Kampungnya” orang menjadi
menyanyangi para penari Jawa. Hal ini juga imbas dari kebebasan dari “Haremnya”
Sultan Yogyakarta dikala pengawasan mengalami kelemahan. Di Paris, para seniman
menemukan pertunjukan yang spektakuler ini di “Kampun Jawa” karena hampir
setiap melihat pertunjukan selalu mendapat senyuman masyarakat yang dirasakan
sebagai sebuah salam, dan mereka dalam mendengarkan alunan musik sangat
mendalam bagaikan “memakan kunyit mentah-mentah”.
Referensi
Husodo
Pringgokusumo, Muhamad. 1992. “Kampung Jawa Pada Eksposisi Sedunia di Paris
Tahun 1889”. Solo : Mangkunegaran.
Engineering.
“The Paris Exhibition, May 3 1889”.
London : office for advertisement and
publication.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar